Padang

Umum

Kota Padang merupakan ibukota Propinsi Sumatera Barat yang berlokasi di pesisir barat Pulau Sumatera. Berdasarkan PP No. 17 Tahun 1980, luas Kota Padang adalah 69.494 Ha dengan jumlah penduduk berjumlah 765.456 jiwa, yang tersebar di 11 kecamatan atau 103 kelurahan. 52,52% dari daerah Kota Padang adalah hutan lindung, 9,01%-nya bangunan dan pekarangan rumah, sedangkan 7,2%-nya atau sekitar 52,25 km2 adalah perairan (Badan Pusat Statistik Padang, 2003).

Letak dan Topografi Kota Padang

Kota Padang sebagai ibukota Propinsi Sumatera Barat terletak pada dataran rendah di pantai barat Pulau Sumatera. Secara geografis Kota Padang terletak pada 00 54’ – 10 Lintang Selatan (LS) dan 1000 17’ – 1000 34 ’ Bujur Timur (BT), dengan panjang pantai sepanjang 84 km.

Kota Padang berada di sebelah Barat Bukit Barisan dan dengan garis pantai sepanjang 68,126 km. Sebagai kota pantai, Kota Padang terdiri atas dataran rendah yang terletak pada ketinggian 0 – 10 m di atas permukaan laut. Secara umum, Kota Padang terletak pada ketinggian yang berkisar antara 0-1.853 m di atas permukaan laut. Daerah tertinggi adalah Kecamatan Lubuk Kilangan, sedangkan daerah lainnya terletak pada dataran tinggi, yaitu sebelah selatan dan timur. Secara topografi Kota Padang terbagi atas empat kategori, yaitu:

  • Dataran datar (lereng 0-2 %) seluas 15.489 Ha;
  • Dataran landai (lereng 2-15 %) seluas 5.028 Ha;
  • Dataran bergelombang (lereng 15-40 %) seluas 14.212 Ha;
  • Dataran terjal atau perbukitan (lereng diatas 40 %) seluas 36.570 Ha.

Berdasarkan penyebaran topografinya, lahan efektif Kota Padang berada pada topografi yang berlereng 0-15 % dengan luas 20.514 Ha atau 29% dari luas wilayah Kota Padang. Daerah ini tersebar dari pinggiran pantai barat hingga wilayah timur kota. Peta kota Padang dapat dilihat pada gambar 2.1.

clip_image002

Gambar 2.1 Peta kota Padang

Hidrologi

Kota Padang memiliki beberapa aliran sungai, baik yang besar maupun yang kecil (anak-anak sungai) yang semuanya mengalir ke arah Barat menuju Samudera Indonesia. Saat ini terdapat 21 aliran sungai, yang terdiri atas 5 sungai besar dan 16 sungai kecil. Untuk lebih rincinya, dapat dilihat pada Tabel.

Tabel Nama Sungai di Wilayah Kota Padang

No

Nama Sungai

Panjang

(km)

Lebar (m)

Kecamatan Yang Dilalui

1

Bt. Kuranji

17

30

Pauh, Kuranji, Nanggalo, Padang Utara

2

Bt. Belimbing

5

5

Kuranji

3

Bt. Guo

5

5

Kuranji

4

Bt. Arau

5

60

Padang Selatan

5

Muaro

0,4

25

Padang Utara

6

Banjir Kanal

5,5

60

Padang Timur, Padang Utara

7

Bt. Logam

15

25

Koto Tangah

8

Bt. Kandis

20

20

Koto Tangah

9

Tarung

12

12

Koto Tangah

10

Bt. Dagang

3

11

Nanggalo

11

Gayo

5

12

Pauh

12

Padang Aru

4

8

Lubuk Kilangan

13

Padang Idas

2

6

Lubuk Kilangan

14

Kampung Juar

6

30

Lubuk Begalung

15

Bt. Aru

5

30

Lubuk Begalung

16

Kayu Aro

3

15

Bungus Teluk Kabung

17

Timbalun

2

8

Bungus Teluk Kabung

18

Sarasah

3

7

Bungus Teluk Kabung

19

Pisang

2

6

Bungus Teluk Kabung

20

Bandar Jati

2

6

Bungus Teluk Kabung

21

Koto

2

6

Padang Timur

Sumber : BPS Padang, 2003

Klimatologi

Kota Padang termasuk daerah beriklim tropis yang memiliki temperatur 230C–320C di siang hari dan 220C–280C di malam hari. Berlokasi pada lembah di antara Bukit Barisan dan Samudera Indonesia, Kota Padang sangat dipengaruhi oleh angin musim dan angin laut yang menyebabkan curah hujan yang tinggi, yaitu 405,88 mm/bulan.

Tata Guna Lahan

Luas wilayah Kota Padang yang telah terbangun adalah 10% dari luas total Kota Padang, bagian yang tidak terbangun digunakan untuk kegiatan pertanian, kehutanan, perkebunan serta tanah yang tidak diusahakan. Untuk lebih jelasnya, pada Tabel dapat dilihat penggunaan lahan di Kota Padang per kecamatan berdasarkan rencana pengembangan kota sampai tahun 2010.

Tabel Penggunaan Lahan Kota Padang Hingga Tahun 2010

No

Kecamatan

Jumlah (Ha) dan Jenis Penggunaan Lahan

Total

(Ha)

A

B

C

D

E

F

G

H

I

1

Bungus Tel.Kabung

189

22

11

942

1347

31

12

7372

152

10078

2

Lubuk Kilangan

336

79

58

624

950

365

4

6147

36

8599

3

Lubuk Begalung

600

79

39

864

506

87

29

845

42

3091

4

Padang Selatan

427

41

6

33

399

12

2

64

19

1003

5

Padang Timur

554

81

13

114

20

-

-

-

33

815

6

Padang Barat

518

157

2

-

12

-

-

-

12

701

7

Padang Utara

477

78

5

75

2

49

24

-

99

809

8

Nanggalo

262

30

2

305

102

19

47

-

41

808

9

Kuranji

513

37

3

1844

1255

35

72

1928

54

5741

10

Pauh

284

173

13

1153

2890

299

17

9690

110

14629

11

Koto Tangah

1165

214

20

2289

5944

657

80

12429

327

23225

Luas (Ha)

5325

991

172

8234

13427

1554

387

38475

925

69496

Persentase (%)

7,66

1,43

0,25

11,8

19,32

2,24

0,56

55,36

1,33

100

Sumber: Data Perencanaan Pembangunan Kota Padang Sampai Tahun 2010, 2003

Keterangan:

A : Pemukiman B : Industri C : Kebun Campuran D:Ladang

E : Rawa/Kolam Ikan F : Jasa G : Sawah H : Semak/Alang-alang

I : Hutan

Geologi

Secara geologis, Kota Padang terdiri atas batuan aluvium, gunung api, intrusi, batu kapur, metamorf, dan formasi falepat.

Demografi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada tahun 2003, jumlah penduduk Kota Padang adalah 765.456 jiwa dan jumlah penduduk per kecamatan dapat dilihat pada Tabel.

Tabel Jumlah Penduduk Per Kecamatan di Kota Padang Tahun 2003

No

Kecamatan

Jumlah Penduduk

Persentase (%)

1

Bungus Teluk Kabung

22.164

2,90

2

Lubuk Kilangan

38.734

5,06

3

Lubuk Begalung

93.203

12,18

4

Padang Selatan

57.342

7,49

5

Padang Timur

79.413

10,37

6

Padang Barat

56.986

7,44

7

Padang Utara

69.479

9,08

8

Nanggalo

53.171

6,95

9

Kuranji

105.370

13,77

10

Pauh

47.956

6,27

11

Koto Tangah

141.638

18,50

Total

765.456

100,00

Sumber : BPS Padang, 2003

Dari tabel tersebut terlihat bahwa kecamatan Koto Tangah memiliki jumlah penduduk terbesar yaitu 105.370 jiwa (18,50%) dan yang paling sedikit adalah Kecamatan Bungus Teluk Kabung dengan jumlah penduduk 22.164 (2,90%).

Penyebaran penduduk Kota Padang tidak merata, umumnya daerah pusat kota, seperti, Kecamatan Padang Barat, Padang Timur, Padang Utara, dan Padang Selatan, berpenduduk cukup padat. Hal ini disebabkan oleh berpusatnya perekonomian dan segala aktivitas kehidupan di daerah-daerah tersebut. Sedangkan daerah pinggir kota, seperti Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Pauh, serta sebagian daerah di Kecamatan Lubuk Buaya dan Lubuk Kilangan, kepadatan penduduknya cukup rendah. Untuk lebih jelasnya tingkat kepadatan penduduk Kota Padang menurut kelurahan dapat dilihat pada Tabel.

Tabel Kepadatan Penduduk Per Kecamatan di Kota Padang Tahun 2003

No

Kecamatan

Kepadatan Penduduk (orang/km2)

1

Bungus Teluk Kabung

220

2

Lubuk Kilangan

450

3

Lubuk Begalung

3.015

4

Padang Selatan

5.717

5

Padang Timur

9.744

6

Padang Barat

8.141

7

Padang Utara

8.599

8

Nanggalo

6.589

9

Kuranji

1.937

10

Pauh

328

11

Koto Tangah

610

Total

1.106

Sumber : BPS Padang, 2003

Sebaran dan Pertumbuhan Penduduk

Jumlah penduduk Kota Padang pada tahun 2003 adalah sebesar 765.640 jiwa, yang terdistribusi pada 11 kecamatan dan 193 kelurahan. Setelah pelaksanaan otonomi daerah jumlah kecamatan tetap tetapi jumlah kelurahan menurun menjadi 103 kelurahan.[Padang dalam Angka, 2003]. Kepadatan rata-rata mencapai 1.118 orang / km2. Distribusi penduduk dan kepadatan penduduk setiap kecamatan dapat dilihat pada tabel 2.5.

Konsentrasi penduduk terutama pada bagian pusat kota, yakni kota lama yakni Kecamatan Padang Timur, Padang Utara, Padang Selatan dan Padang Barat, dengan penduduk yang paling banyak adalah kecamatan Kuranji mencapai 105.370 jiwa dan paling terendah adalah Kecamatan Bungus Teluk Kabung sebanyak 22.164 jiwa.

Pertumbuhan penduduk yakni 1,95 % untuk periode 1999 – 2005, hampir menyamai Proyeksi penduduk Kota Padang sampai pada tahun 2016 mendatang, dapat dihitung dengan menggunakan beberapa metoda perkiraan statistik yang sering digunakan antara lain regresi linear, regresi logaritmit, regresi eksponensial dan regresi power. Data dasar yang digunakan dalam proyeksi ini adalah data jumlah penduduk yang dihimpun dalam Buku Padang Dalam Angka tahun 2003 yang diterbitkan oleh Biro Pusat Statistik Kota Padang.

Tabel 2.5 Sebaran penduduk Kota Padang Tahun 2003

clip_image002_0000

Jumlah penduduk Kota Padang di tahun 2016 diperkirakan adalah 963.258 jiwa, atau mengalami kenaikan rata-rata 15000 jiwa setiap tahunnya.

clip_image004

Gambar Proyeksi Jumlah Penduduk Sampai Tahun 2016

Persampahan

Pengelolaan sampah suatu kota tergambar dalam suatu sistem pengelolaan sampah kota yang meliputi; aspek pengelola, aspek teknik operasional, aspek hukum, aspek pembiayaan dan aspek peran serta masyarakat.

  • Aspek Pengelola

Pengelolaan persampahan di Kota Padang awalnya dilakukan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Padang yang bekerjasama dengan Dinas Pasar dan Dinas Pariwisata Kota Padang. Untuk memperluas daerah layanan kebersihan, maka dikembangkan pengelolaan sampah Kota Padang dengan melibatkan kecamatan-kecamatan di seluruh Kota Padang, diantaranya dengan pengadaan truk sampah kecamatan dan penyediaan motor sampah untuk mengumpulkan sampah dari taman dan jalan kota, serta daerah yang tidak terjangkau oleh layanan truk sampah.

  • Aspek Teknik Operasional

Cakupan pengelolaan sampah yang dilakukan meliputi pewadahan, pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan serta pengolahan sampah ke Lokasi Pembuangan Akhir (LPA). Secara umum prasarana pengelolaan sampah yang dimiliki oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Padang diperlihatkan pada tabel 2.6.

  • Sumber dan Timbulan Sampah

Sampah yang dikelola oleh Pemda Kota Padang meliputi sampah dari daerah pemukiman, perkantoran, pasar dan toko, jalan, taman dan pembersihan saluran dan fasilitas umum lainnya seperti terminal.

Daerah pelayanan persampahan saat ini sekitar 47 Kelurahan terutama pada lokasi Kota Padang lama dan sebagian lokasi baru seperti Kecamatan Lubuk Begalung 4 Kelurahan, Kecamatan Nanggalo 2 Kelurahan, Kecamatan Koto Tangah 4 Kelurahan dan Kecamatan Kuranji sebanyak 3 Kelurahan dan telah melayani sebanyak 403.989 jiwa atau 50,14 % .

Timbulan sampah pada tahun 2001 diperkirakan 2.417 m3/hari. Sedangkan sampah terangkut sebesar 1.218 m3/hari atau 50,40% dari timbulan sampah total. Pada tahun 2004 timbulan sampah ini meningkat menjadi sebesar 179 ton/hari [Novia Loeis, 2004]. Angka ini terus bertambah setiap tahunnya.

  • Pewadahan

Sampah dari rumah tangga umumnya dimasukkan ke dalam wadah kantong plastik atau karung, yang kemudian dimasukkan ke dalam wadah berupa pasangan batu bata yang tersedia/ dibuat di sekitar rumah. Untuk daerah pemukiman yang tidak mempunyai wadah dari pasangan batu bata biasanya meletakkan sampah yang sudah dikantongi digantung di pagar atau diletakkan didepan rumah.

Tabel Prasarana Pengelola Sampah DKPKota Padang

Peralatan

Satuan

Jumlah

Pengumpulan

  • Gerobak sampah

unit

306

Transfer

  • Container baja
  • Container (kayu)
  • TPS Kayu
  • Transfer depo

Unit

Unit

Unit

Unit

60

45

-

2

Transpormasi

  • Dump Truck
  • Truck Terbuka
  • Amrol Truck
  • Mini Truck (Kijang)

Unit

Unit

Unit

Unit

12

4

15

5

Final Dumping

  • Buldoser
  • Escavator
  • TPA (ha)
    • Panjang jalan masuk
    • Luas taman
    • Pohon pelindung
    • Jarak kepemukiman

Unit

Unit

Ha

Meter

Meter2

Batang

Meter

1

1

1,5

1.200

200

60

1.500

Sumber : Dinas Kebersihan dan Dinas Pasar Kota Padang

Sampah dari kantor dan sekolah biasanya akan dikumpulkan dan diletakkan didalam wadah berupa batu bata atau di lahan kosong yang dijadikan tempat pembuangan sementara.

Sampah dari pertokoan biasanya dimasukkan ke dalam kantong plastik/ karung dan diletakkan didepan toko. Untuk pasar, sampah akan dikumpulkan oleh petugas ke pewadahan yang tersedia bisa berupa pasangan batu bata dan juga kontainer.

Sampah dari jalan, taman, dan saluran kota biasanya dikumpulkan oleh petugas dan diletakkan dipinggir jalan/taman.

Sampah dari fasilitas umum lainnya biasanya dikumpulkan pada wadah yang tersedia bisa berupa tong sampah, bak sampah, atau kontainer.

Untuk daerah yang belum dilayani sampahnya biasanya sampah dibuat ke lahan kosong/ ditimbun, dan juga dibakar.

  • Pengumpulan

Kegiatan pengumpulan sampah umumnya dilakukan oleh petugas sampah menggunakan dengan becak sampah dan gerobak sampah, dan tempat tertentu dengan becak motor.

Sampah dari sumber yang diletakkan di bak sampah/ tong sampah/ pagar/ lahan kosong diambil dan dimasukkan ke gerobak/ becak, kemudian dibawa ke kontainer terdekat.

Untuk daerah-daerah tertentu yang tidak dilayani oleh petugas sampah biasanya memasukkan sampahnya ke wadah berupa kantong plastik/ karung dan memasukkan sendiri sampah ke pewadahan terdekat.

  • Pemindahan dan Pengangkutan

Pemindahan dilakukan ke tempat pembuangan sementara (TPS) yang lebih besar kapasitasnya bisa berupa kontainer, pasangan batu bata, dan semi kontainer.

Pengangkutan sampah dilakukan terhadap sampah dari TPS ke TPA dengan menggunakan kendaraan sampah berupa dump truk, arm roll truk, truk biasa, dan mini truk. Truk sampah ini ada yang langsung dikelola Dinas Kebersihan dan Pertamanan, ada dari Dinas Pasar, dari Kecamatan, dan juga dari LKMD.

  • Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

Semua sampah yang dikelola akan diangkut ke TPA. TPA Kota Padang berada di Kelurahan Air Dingin Kecamatan Koto Tangah yang berjarak ± 17 km dari pusat kota dengan luas areal 30 ha. Dilengkapi dengan peralatan – peralatan penunjang seperti bangunan kantor, kolam pengolahan lindi, saluran lindi serta peralatan seperti escavator dan buldozer yang sudah rusak dengan umur pakai tinggal 40%. Lokasi TPA Air Dingin dari foto udara dapat dilihat pada gambar

clip_image002

Gambar Foto Udara TPA air dingin yang diperoleh melalui Google Earth.com dengan ketinggian 197 m.

TPA Air Dingin dirancang menggunakan sistem sanitary landfill, namun belum berfungsi sepenuhnya yang disebabkan oleh terbatasnya peralatan penunjang seperti excavator dan buldozer yang tersedia, sehingga hingga sekarang operasional TPA dengan menggunakan open dumping yang sangat berpotensi mencemari lingkungan.

  • Pengolahan Sampah

Selain terdapat lahan pembuangan akhir di TPA Air Dingin juga terdapat fasilitas komposting yang ditujukan untuk mengolah sampah organik dari pasar, untuk dijadikan pupuk kompos. Hasil pengomposan saat ini dimanfaatkan untuk tanaman-tanaman di taman kota.

Pada tahun 1986, pengelolaan sampah di Kota Padang pernah menggunakan incenerator di Lubuk Buaya. Namun karena tidak efisien dan biaya pengeoperasian yang mahal (Rp 400 /kg sampah pada tahun 1999), maka pengoperasiannya dihentikan.

Kegiatan pengolahan sampah yang dilakukan sampah berupa pemilahan sampah-sampah yang memiliki nilai ekonomis berupa sampah yang dapat didaur ulang, kegiatan ini terjadi di tingkat sumber, TPS, truk sampah dan di TPA.

    • Aspek Hukum
    • Aspek Biaya
    • Aspek Peran Serta Masyarakat

Padang